Rabu, 06 April 2011

Budaya Tedak Siten

I. Pendahuluan

Budaya Jawa peninggalan leluhur yang mungkin terlupakan karena terlindas oleh peradaban zaman yan semakin maju ditambah lagi masuknya budaya barat dan perkembangan informasi dan teknologi. sehingga masyarakat, terutama masyarakat perkotaan sedikit demi sedikit telah meninggalkan budaya peninggalan leluhur ini. entah karena zaman yang sudah makin maju atau karena masuknya ajaran agama Islam yang melarang untuk menumbuh kembangkan budaya jawa yang bisa mengarah pada perbuatan yang syirik dan pasrah dengan nasib. Budaya Jawa ini mulai ada sebelum era Wali Songo (kata ibuku) dan sempat menjadi alat penyebaran agama Islam pada zaman Wali Songo, karena mayarakat kita lebih percaya pada ritual-ritual kuno, mereka meyakini bahwa sebuah kejadian dan peristiwa sekarang bisa berpengaruh pada kehidupan di masa mendatang.

Salah satunya yaitu budaya 'Tedak Siten', 'Tedak Siten' merupakan wujud pengharapan orang tua terhadap buah hatinya agar si anak kelak siap dan sukses menampaki kehidupan yang penuh dengan rintangan dan hambatan dengan bimbingan orang tuanya, 'Tedak Siten' dapat juga diartikan wujud penghormatan terhadap tanah air ini yang telah memberikan banyak hal dalam hidup manusia di bumi ini.

Inilah salah satu tradisi masyarakat Jawa yang mulai digerus zaman. Tedak Siten sendiri berasal dari kata Tedak yang berarti menapakkan kaki atau langkah, dan Siten yang berasal dari kata siti berarti tanah. Maka, Tedak Siten adalah turun (ke) tanah atau mudhun lemah. Lengkapnya, tradisi ini diperuntyukkan bagi bayi berusai 7 lapan atau 7 x 35 hari (245 hari). Jumlah selapan adalah 35 hari menurut perhitungan Jawa berdasarkan hari pasaran, yaitu Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage. Pada usia 245 hari, si anak mulai menapakkan kakinya pertama kali di tanah, untuk belajar duduk dan belajar berjalan. Ritual ini menggambarkan kesiapan seorang anak (bayi) untuk menghadapi kehidupannya.


II. Isi

Tedak siten adalah suatu upacara dalam tradisi budaya Jawa yang dilakukan ketika anak pertama belajar jalan dan dilaksanakan pada usia sekitar tujuh atau delapan bulan. Tahapan dalam upacara tedak siten antara lain adalah:
1. Membersihkan kaki
2. Injak tanah
3. Berjalan melewati tujuh wadah
4. Tangga tebu wulung
5. Kurungan
6. Memberikan uang
7. Melepas ayam

Secara keseluruhan, upacara ini bermakna untuk mengajarkan konsep kemandirian pada anak.
Biasanya, kesempatan bahagia ini harus diselenggarakan pada pagi hari, di bagian depan dari pekarangan rumah. Kecuali orang tua dan keluarga, beberapa orang tua juga hadir untuk memberikan berkat kepada anak. Yang diperlukan sajen / korban tidak boleh dilupakan. Ianya melambangkan permintaan dan berdoa kepada Allah Maha Kuasa untuk menerima berkat dan perlindungan dari HIM, untuk menerima berkat dari nenek moyang, untuk memberantas kejahatan dari perbuatan buruk manusia dan semangat. T Upacara ritual dapat dilaksanakan dalam rangka dan keselamatan.
Tedak Siten juga sebagai bentuk pengharapan orang tua terhadap buah hatinya agar si anak kelak siap dan sukses menampaki kehidupan yang penuh dengan rintangan dan hambatan dengan bimbingan orang tuanya. Ritual ini sekaligus sebagai wujud penghormatan terhadap siti (bumi) yang memberi banyak hal dalam kehidupan manusia.

Pada zaman dulu, masih banyak masyarakat Jawa yang melakukan ritual ini untuk anaknya. Sejumlah perlengkapan untuk ritual ini adalah Jadah (tetel) tujuh warna, jadah merupakan makanan yang terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan parutan kelapa muda dengan ditambahi garam agar rasanya gurih, warna jadah 7 rupa itu yaitu warna merah, putih, hitam, kuning, biru, jingga dan ungu. Makna yang terkandung dalam jadah ini merupakan simbol kehidupan yang akan dilalui oleh si anak, mulai dia menapakkan kakinya pertama kali di bumi ini sampai dia dewasa, sedangkan warna-warna tersebut merupakan gambaran dalam kehidupan si anak akan menghapai banyak pilihan dan rintangan yang harus dilaluinya. jadah 7 warna disusun mulai dari warna yang gelap ke terang, hal ini menggambarkan bahwa masalah yang dihadapi si anak mulai dari yang berat sampai yang ringan, maksudnya seberat apapun masalahnya pasti ada titik terangnya yang disitu terdapat penyelesaiannya.

Tedhak Siten atau upacara Turun Tanah adalah salah satu upacara adat budaya Jawa untuk anak yang berusia 8 bulan (pitung lapan), di daerah lain di Indonesia juga dikenal upacara adat turun tanah ini dengan istilah yang berbeda. Upacara ini mewujudkan rasa syukur karena pada usia ini si anak akan mulai mengenal alam disekitarnya dan mulai belajar berjalan.


Dalam upacara adat ini ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh si anak, dimana tiap tahap atau proses tersebut memiliki nilai-nilai budaya yang cukup tinggi. upacara Tedhak Siten ini sendiri dalam prosesinya memerlukan uba rampe yang beraneka ragam, sekali lagi dalam setiap uba rampe yang dipergunakan ini juga memiliki makna yang cukup dalam.


Uba rampe yang diperlukan dalam upacara Tedhak Siten ini yaitu, juadah (jadah) warna warni (7 warna: putih, merah, hijau, kuning, biru, cokelat, merah muda/ungu), tangga yang terbuat dari tebu ireng (tebu arjuna), kurungan (biasanya berbentuk seperti kurungan ayam) yang diisi dengan barang/benda (misalnya: alat tulis, mainan dalam berbagai bentuk dan jenis) sebagai lambang/tanda untuk masa depan anak, banyu gege (air yang disimpan dlm tempayan/bokor selama satu malam & pagi harinya

dihangatkan dengan sinar matahari), ayam panggang, pisang raja (melambangkan harapan agar si anak di masa depan bisa hidup sejahtera dan mulia, lawe wenang, dan udhik-udhik (yang terdiri berbagai jenis biji-bijian, uang logam, & beras kuning).

Perlengkapan tambahan: jajan pasar, berbagai jenis jenang-jenangan, tumpeng lengkap dengan gudangan, nasi kuning, tumpeng robyong, dan tumpeng gundhul.

Untuk prosesinya sendiri ada beberapa tahap. Tahap pertama, si anak dibimbing orang tuanya untuk berjalan di atas juadah. Tahap kedua, kembali anak dibimbing menaiki tangga yang terbuat dari tebu ireng (dengan maksud agar si anak dalam hidupnya selalu lurus –dalam jalan yang benar– seperti tebu ireng, dan hidupnya makin terus meningkat menjadi lebih baik sesuai dengan apa yang dicita-citakan).

Tahap ketiga, anak diajak masuk ke dalam kurungan (kurungan di sini bermaksud untuk menjaga konsentrasi si anak) dan memilih benda yg telah disiapkan

sebelumnya, dan benda yang dipilih tersebut menggambarkan apa yang akan dipilih oleh si anak di masa depannya, sebagai contoh jika si anak memilih mainan berbentuk alat kedokteran, maka di masa depan si anak akan menjadi dokter.

Setelah selesai memilih benda/barang, dilanjutkan dengan tahap ke empat, yaitu si anak dimandikan dengan banyu gege yang melambangkan harapan agar si anak dapat selalu segar dan tegar dalam menjadi hidupnya di masa depan, dalam istilah jawa dikenal dengan gelis gedhe lan ilang sarap sawane.

Setelah selesai, si anak kemudian dibimbing berjalan membawa tebu & perlengkapannya dan dilanjutkan dengan udhik-udhik oleh nenek.

III. Simpulan
Tedhak Siten merupakan bagian dari adat dan tradisi masyarakat Jawa Tengah . Upacara ini dilakukan untuk adik kita yang baru pertama kali belajar berjalan.

Tedak Siten berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yaitu “tedhak” berarti ‘menapakkan kaki’ dan “siten” (berasal dari kata ‘siti’) yang berarti ‘bumi’.
Upacara ini dilakukan ketika seorang bayi berusia tujuh bulan dan mulai belajar duduk dan berjalan di tanah. Secara keseluruhan, upacara ini dimaksudkan agar ia menjadi mandiri di masa depan


IV. Penutup
Benar atau tidaknya sebuah ritual ini atau budaya ini kita tidak tahu. Budaya ini tidak harus kita percayai tetapi tidak boleh kita hilangkan begitu saja karena budaya ini merupakan ciri negeri kita. cukup kita pahami sebagai kekayaan cakrawala kebudayaan negara indonesia dan kita sebagai generasi muda tidak serta merta meniru budaya-budaya asing yang sebenarnya telah bertentangan dengan adat ketimuran.

Semoga tulisan saya ini bermanfaat bagi pembaca.

V. Daftar Pustaka
1. budaya-jawa-yang-terlupakan.html
2. Tedak Siten, ketika anak kali pertama menginjak tanah _ Kabar SoloRaya.h
3. Tedhak Siten _ Tips-Trik dan Tutorial Optimalisasi Koneksi Internet - Blogging - Komputer _ Ariawijaya.com.htm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar